jump to navigation

Tanabata (Festival Bintang) Mei 28, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

 

Tanabata (Festival Bintang)

 

Tanabata atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Tanggal festival Tanabata dulunya mengikuti kalender lunisolar yang kira-kira sebulan lebih lambat daripada kalender Gregorian. Sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata diadakan pada malam tanggal 7 Juli, hari ke-7 bulan ke-7 kalender lunisolar, atau sebulan lebih lambat sekitar tanggal 8 Agustus. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di wilayah Jepang sebelah timur seperti Hokkaido dan Sendai, perayaan dilakukan sebulan lebih lambat sekitar 8 Agustus. Alasan dan sejak kapan hari ke-7 bulan ke-7 mulai dijadikan hari istimewa tidak diketahui dengan pasti. Literatur tertua yang menceritakan peristiwa di hari tersebut adalah Simin yueling (almanak petani) karya Cui Shi yang menulis tentang tradisi menjemur atau mengangin-anginkan buku di bawah sinar matahari.

 

Tanabata merupakan sinkretisme dalam tradisi Jepang kuno untuk mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen dan perayaan Qi Qiao Jie (asal Tiongkok) yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tapi kemudian dijadikan perayaan terpisah. Dalam perayaan ini, daun bambu (biasa di sebut sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.

 

Legenda asli Jepang tentang Tanabatatsume dalam kitab Kojiki mengisahkan seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai. Hal ini dilakukan agar ia dijadikan istri semalam sang dewa supaya desa terhindar dari bencana. Di zaman Nara, perayaan Tanabata dijadikan salah satu perayaan di istana kaisar yang berhubungan dengan musim. Di dalam kitab antologi puisi waka berjudul Man’yōshū terdapat puisi tentang Tanabata karya Ōtomo no Yakamochi dari zaman Nara. Setelah perayaan Tanabata meluas ke kalangan rakyat biasa di zaman Edo, tema perayaan bergeser dari pekerjaan tenun-menenun menjadi kepandaian anak perempuan dalam berbagai keterampilan sebagai persiapan sebelum menikah.

 

Festival Tanabata biasanya dimeriahkan dengan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku (secarik kertas berwarna-warni). Tradisi ini sudah ada di Jepang sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis. Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik.

 

Di jepang, perayaan Tanabata dirayakan secara besar-besaran di berbagai kota, seperti: Sendai, Hiratsuka, Anjo, dan Sagamihara. Perayaan ini dimulai setelah Perang Dunia II dengan maksud untuk menggairahkan ekonomi, terutama di wilayah Jepang bagian utara. Di zaman dulu, Sendai sering berkali-kali dilanda kekurangan pangan akibat kekeringan dan musim dingin yang terlalu dingin. Di kalangan penduduk lahir tradisi menulis permohonan di atas secarik kertas tanzaku untuk meminta dijauhkan dari bencana alam. Date Masamune menggunakan perayaan Tanabata untuk memajukan pendidikan bagi kaum wanita, dan hiasan daun bambu mulai terlihat di rumah tinggal kalangan samurai dan penduduk kota. Di zaman Meiji dan zaman Taisho, perayaan dilangsungkan secara kecil-kecilan hingga akhirnya penyelenggaraan diambil alih oleh pusat perbelanjaan di tahun 1927. Pusat perbelanjaan memasang hiasan Tanabata secara besar-besaran, dan tradisi ini berlanjut hingga sekarang sebagai Sendai Tanabata.

 

SHODO Mei 14, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

           Seni menulis indah menggunakan kuas dan tinta hitam atau yang lebih dikenal dengan istilah kaligrafi sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Kaligrafi ini pertama kali dikembangkan di China pada abad ke 7 bersamaan dengan penyebaran agama Budha dari India menuju China, Korea, dan Jepang, di mana kitab suci agama Budha sudah ditulis dengan kaligrafi China pada saat agama itu diperkenalkan di Jepang.

 

Kalgrafi dalam bahasa Jepangdi sebut Shodo, yang berasal dari huruf kanji kaku (menulis) dan michi (cara). Meskipun shodo termasuk kebudayaan yang cukup kuno, namun orang Jepang masih mempertahankan kebudayaan itu. Hal ini terbukti hingga saat ini masih banyak orang yang tertarik untuk mempelajarinya, bahkan di sekolah-sekolahy para murid (biasanya murid SD) diajarkan shodo.

Shodo sangat memperhatikan keseimbangan bentuk tulisan, tarikan garis, tebal tipisnya garis hingga irama tulisan. Keindahan kaligrafi ini tentunya tidak lepas dari peralatan yang digunakan. Dalam membuat shodo ada 6 jenis peralatan utama yang biasa digunakan. Yang pertama adalah shitajiki, berupa tatakan / alas untuk menulis. Alas ini biasanya berbahan semacam kain flannel yang permukaannya lembut dan berwarna hitam. Kedua adalah bunchin atau pemberat kertas berbentuk balok yang terbuat dari besi. Peralatan yang lainnya yaitu kertas untuk menulis. Kertas yang digunakan bukan sembarang kertas, melainkan kertas yang tipis dan ringan, namun tahan lama dan mampu menyerap tinta dengan baik. Kertas khusus ini dikenal dengan hanshi, berupa kertas dengan dua permukaan yang berbeda, dimana sebelah permukaannya kasar, sedangkan permukaan yang sebaliknya halus. Bagian yang halus inilah yang dipakai untuk menulis kaligrafi. Ukuran hanshi pada umumnya berkisar antara 24 x 32,5 hingga 25 x 35 cm. selanjutnya fude, sejenis kuas untuk menggambar kaligrafi. Fude memiliki berbagai macam bentuk, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Fude ukuran besar biasanya digunakan uintuk mmbuat tulisan, sedangkan yang kecil digunakan untuk membubuhkan tanda tangan si pembuat kialigrafi. Batang fude terbuat dari bambu atau kayu pohon, sedangkan bulunya terbuat dari bulu hewan, seperti domba, musang, rakun, rusa, bahkan ekor kuda. Bulu itu kemudian diikat dan ditempelkan pada fude. Rapih tidaknya ikatan bulu fude sangat mempengaruhi tekstur tulisan. Tidak hanya fude saja, tetapi tinta yang dipakai juga mempengaruhi hasil tulisan. Tinta yang dipakai biasanya berupa tinta botolan. Namun, agar hasil tulisan maksimal, biasanya digunakan sumi, berupa tinta yang dipadatkan. Cara mencairkan sumi yaitu dengan menambahkan air lalu menggosok-gisokkan sumi dalam wadah besi yang disebut suzuri.

Sebelum membuat sodho, keenam perlengkapan itu ditata sesuai aturan. Hanshi diletakkan di atas shitajiki, kemudian dibagian atasnya diberi pemberat bunchin agar tidak bergeser ataupun tertiup angin. Sedangkan suzuri yang sudah berisi tinta sumi diletakkan di sebelah kanan bersama dengan fude. Kadang-kadang fude juga diletakkan di atas fudeoki yang mirip kotak kecil untuk menyimpan sumpit. Sedangkan cara memakai fude yaitu dengan menggenggam bagian tengah fude, dan pada saat mencoretkan fude pada hanshi, fude diarahkan tegak lurus, pergelangan tangan dan siku tidak boleh menyentuh meja. Banyak sekali aturan bukan? Tapi itulah shodo. Dibalik kerumutan terdapat seni yang sangat indah

Ujian Nasional (UAN) Menjadi Momok Bagi Siswa Mei 6, 2008

Posted by uraankoku in berita.
add a comment

           Ujian Nasional (UAN) yang diadakan pada tanggal 22-24 April 2008 lalu telah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa SMA dan SMK. Hal ini disebabkan karena tingginya standar kelulusan yaitu 4,26 dan adanya penambahan tiga mata pelajaran yang ikut diujikan. Berbeda dengan UAN tahun sebelumnya yang hanya mengujikan tiga mata pelajaran, pada UAN tahun ini mata pelajaran yang diujikan menjadi 6 mata pelajaran. Khusus untuk SMA, tiga mata pelajaran yang ikut ditambahkan dalam UAN yaitu, Matematika, Sosiologi, dan Geografi (untuk program jurusan IPS), Fisika, Biologi dan Kimia ( untuk program jurusan IPA), dan Sastra, Matematika dan Antropologi (untuk program jurusan Bahasa). Sedangkan untuk SMK tidak ada penambahan. Mata pelajaran yang diujikan untuk UAN hanya Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Bertambahnya jumlah mata pelajaran yang diujikan dan tingginya standar kelulusan pada UAN tahun ini dirasa sangat memberatkan siswa. Mereka sangat takut tidak dapat lulus. Pasalnya pada UAN tahun lalu, yang hanya mengujikan tiga mata pelajaran saja ternyata menyebabkan banyak siswa tidak lulus. Dengan adanya kenyataan ini para siswa harus belajar dengan sangat ekstra. Tetapi bukan hanya siswa saja yang harus belajar keras, guru dan pihak sekolah pun juga bekerja keras agar semua anak didiknya dapat lulus. Seperti halnya yang dilakukan oleh Ibu Sri Setiyani. S. Pd, (45) guru SMK N 2 Purworejo. Agar semua anak didiknya dapat lulus, beliau dan pihak sekolah berusaha semaksimal mungkin membantu siswa dengan cara memberikan bimbingan yang makasimal seperti membahas soal-soal UAN tahun lalu, membuat soal untuk uji coba UAN secara gabungan dengan sekolah-sekolah lain se Kabupaten Purworejo, memberikan les tambahan seusai jam sekolah, menambah jumlah jam pelajaran, menghapal dan mengulangi materi dari kelas satu hingga kelas tiga, melatih siswa untuk dapat percaya diri dan berdoa bersama. Usaha-usaha ini dilakukan dengan harapan agar siswa dapat lulus dengan baik.

Berbeda lagi dengan Agus Wijiyanto (18), siswa SMA Bruderan, Purworejo. Agus mengaku agar dapat lulus di UAN tahun ini, ia harus belajar dengan lebih giat. Ia rela mengorbankan waktu bermainny untuk belajar dan mengikuti berbagai les baik di sekolah maupun di luar sekolah. “Semua kegiatan ini sangat membuat saya sangat letih karena dari hari senin saya harus masuk pukul 06.30 wib hingga pukul 14.30 wib, setelah itu masih harus mengikuti les hingga pukul 16.30 wib. Walaupun sangat cepek tetapi hal itu tidak seberapa dibandingkan saya dapat lulus dengan nilai yang baik” kata Agus.

Drama “Bukan Salah Shinta” di Aula USD Mei 6, 2008

Posted by uraankoku in berita.
add a comment

 

 

          Pada tanggal 24 April 2008 lalu, kelas teater angkatan 2004, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (USD), menggelar sebuah pementasan drama berjudul “Bukan Salah Shinta” dalam rangka memenuhi mata kuliah “Teater”. Drama yang di sutradarai oleh Rintis Kartikajati ini terinspirasi dari cerpen berjudul “Dua Wanita Cantik” Karya Jujur Prananto. Para pemain yang terlibat dalam pementasan ini antara lain adalah Cicilia Feniawati (sebagai Shinta), Yulia Herlin P (sebagai Bunda), Yustinus Anang (sebagai Rama), dan Laurentius Ellife. S. N (sebagai Om Bambang).

          Pementasan ini diadakan di aula kampus USD, Mrican pada pukul 19.00-20.30 WIB. Selain gratis, pementasan ini juga bersifat terbuka untuk umum, sehingga siapa saja diijinkan untuk menonton. Pementasan ini terbilang sukses. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penonton yang datang untuk menyaksikan pementasan ini. Meskipun tergolong singkat, sebab hanya berlangsung selama kurang lebih 45 menit, namun penonton mengaku sangat terhibur menyaksikan drama ini.

         Pementasan drama ini sebenarnya tidak hanya bertujuan untuk mempraktekkan teori perkuliahan tentang bermain drama, namun juga melatih mahasiswa untuk menyelenggarakan dan memproduksi sebuah pementasan drama. Selain itu pementasan drama ini juga merupakan bentuk promosi untuk anak-anak SMA.