jump to navigation

Artikel. Juni 28, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

GION MATSURI

 

Jepang dikenal sebagai Negara yang paling banyak mengadakan festival (matsuri). Boleh dikatakan hampir setiap bulannya ada saja festival yang dirayakan di Negri Sakura itu. Sebenarnya, festival di Jepang dirayakan bukan semata-mata untuk bersenang-senang, tetapi dibalik semua itu ada kepercayaan terhadap dewa yang diagungkan oleh orang Jepang. Kata matsuri sendiiri berarti festival dan penyembahan. Jadi, setiap festival memiliki makna penyembahan terhadap dewa.

            Diantara banyaknya festival yang ada, salah satunya ada yang disebut Gion Matsuri (Festival Gion). Gion matsuri merupakan festival tahunan yang diadakan di kota Kyoto setiap bulan Juli, bersamaan dengan festival Tanabata yang diadakan setiap tanggal 7 Juli. Bedanya, festival ini diadakan sebulan penuh, dari tanggal 1 hingga 31 Juli.

            Gion Matsuri pertama kali diadakan pada tahun 869 Masehi, dimana saat itu terjadi wabah penyakit mematikan di Kyoto. Untuk menghentikan wabah tersebut, masyarakat Kyoto pun lalu berdoa kepada dewa kesehatan. Mereka juga menggantungkan tombak setinggi 66 meter, yang melambangkan 66 propinsi di Jepang. Paada awalnya, festival ini diadakan sebagai upacara ritual hingga wabah penyakit menghilang. Namun, sejak tahun 970 Masehi, festival ini berubah menjadi acara tahunan. Nama Gion sendiri diambil dari nama kuil Yasaka, tempat diadakannya festival ini, dimana kuil Yasaka dulunya bernama kuil Gion.

            Orang Kyoto mengatakan jika musim panas di Kyoto dimulai dengan Festival Gion, banyak orang memakai yukata (kimono musim panas) dan geta (sandal kayu) selama festival tersebut. Selain itu, juga diadakan festival makanan Jepang di sepanjang jalan Kyoto. Makanan Jepang yang disajikan antara lain takoyaki (cumi-cumi baker), tomorokoshi (jagung baker), dll.

            Acara yang paling ditunggu-tunggu dalam festival ini adalah Yoi-yama yang diadakan pada tanggal 16 Juli dan Yamahoko-junko pada tanggal 17 Juli. Pada saat yoi-yama, orang-orang membuka pintu rumah mereka dan memamerkan penyekat ruangan kuno yang mereka miliki. Sedangkan yamahoko-junko adalah parade kendaraan hias, yang dalam hal ini kendaraan tersebut berbentuk kuil. Dalam parade tersebut para lelaki yang berpakaian tradisional Jepang manarik sebuah kuil buatan sepanjang jalan besar kota Tokyo. Biasanya daerah yang dilewati adalah daerah pertokoan besar seperti Takashiyama dan Nishiki-Koji. Ada 2 jenis kuil yang diangkut saat Yamahoko-junko, yaitu yama dan hoko. Yama merupakan kuil yang berbentuk kecil. Tetapi walaupun ukurannya kecil, berat yama mencapai 1,2 ton hingga 1,6 ton, dengan tinggi sektar 6 meter. Biasanya yama diarak keliling kota dengan cara digotong di pundak. Sedangkan hoko merupakan kuil raksasa yang bentuknya jauh lebih besar dari yama. Beratnya mencapai 4,8 ton hingga 12 ton, dengan tinggi menvapai 25 meter. Hoko biasanya diletakkan diatas roda kayu, dan mengaraknya dengan cara ditarik. Karena berat, biasanya para lelaki menariknya dengan maneriakan “Yoi, yoi, yoi, to sei” dengan diiringi musik tradisional Jepang.

            Jumlah kuil yang diarak selama parade berjumlah 32 buah, dengan perbandingan yama 25 buah dan hoko 7 buah. Dulu, kuil yang diarak tidak dihiasi dengan pernak-pernik, namun sejak zaman Edo kuil tersebut mulai dihiasi dengan hiasan seperti lampion dan permadani hiasan dinding. Hiasan-hiasan ini biasanya diproduksi di Nishijin, Kyoto. Hampir setiap tahunnya parade ini selalu ramai dipenuhi orang-orang, baik masyarakat Kyoto sendiri maupun para turis.

Artikel Juni 28, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

GEISHA

 

Apa itu Geisa? Sebagian besar tentu langsung membayangkan sosok wanita Jepang ber-kimono lengkap dengan dandanan putih tebal dan rambut palsunya. Geisha sering disalah artikan banyak orang sebagai wanita penghibur atau yang berkaitan dengan prostitusi. Padahal, arti gesha yang sebenarnya adalah “seniman” atau “artis”, yang berasal dari huruf kanji gei (seni) dan sha/mono (orang). Image geisha tidak terlepas dari kimono yang rumit, sanggul palsu lengkap dengan hiasan daun icho dan kanzashi (jepit rambut),serta make up tebal berwarna putih. Karena wajahnya yang berwarna putih itu, sekitar abad ke-13, pada zaman Kamakura, geisha pernah dikenal dengan istilah shirabyoshi. Geisha yang sudah ada sejak zaman dulu memiliki sejarah panjang.

            Pada awalnya istilah geisha hanya ditujukan untuk para pria yang menjadi houken (pelawak di istana kaisar). Setelah ada wanita yang berpartisipasi, barulah muncul istilah onna geisha (geisha wanita) yang selanjutnya disebut sebagai geisha seperti sekarang ini. Dulu orang yang menjadi geisha biasanya anak yatim piatu atau berasal dari keluarga tidak mampu yang dibeli oleh ochaya (kedai teh). Sejak mecil mereka dididik oleh okamisan (istilah “mama” yang mengelola ochaya) untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga , dan lama-kelamaan diangkat menjadi asisten geisha senior. Selama masa training, mereka ditempatkan dan dipekerjakan dirumah seorang seniman sebagai pelayan rumah tangga. Lamanya training ini bisa mencapai beberapa tahun hingga mereka bissa menjadi seorang geisha. Selama bekerja disanalah mereka mulai mempelajari dan mengamati apa yang dikerjakan si seniman, yang dijadikan bekal untuk mereka kelak.

            Lain halnya dengan dulu, geisha di zaman modern ini tidak lagi berasal dari keluarga miskin atau yatim piatu. Siapapun dapat menjadi geisha. Namun, yang pasti mereka dituntut untuk menguasai berbagai kesenian Jepang tradisioal, mulai dari ikebana (seni merangkai bunga), chanoyu (upacara minum the), menari tarian tradisional, kaligrafi, membuat puisi, bermain alat musik tradisional shamisen (sejenis banjo bersenar tiga), kodaiko (drum kecil yang dimainkan dengan menggunakan stik kayu), hingga mempelajari bahasa Inggris.

            Di Kyoto, anak gadis yang magang menjadi geisha di sebut maiko. Biasanya usia maiko berkisar antara 15-20 tahun. Para maiko ini dilatih untuk menemani geisha senior melayani tamunya di kedai teh atau undangan pesta hanya sekedar menyajikan minuman, mengobrol dengan tamu, dan tampil menunjukkan kemampuan seninya, yaitu tachikata dan jikata. Tachikata yang menampilkan tarian tradisional Jepang biasanya dilakukan oleh para maiko, sedangkan jikata kebanyakan dilakukan oleh geisha senior dengan menampilkan nyanyian atau permainan musik tradisional. Setelah berusia 20 tahun, para maiko harus memutuskan apakah mereka akan menjadi geisha atau tidak. Apabila kelak mereka menikah, mereka tidak boleh lagi menjadi geisha. Harga yang dibayar untuk menyewa geisha cukup mahal, dan tidak sembarangan orang dapat menyewa geisha, kecuali orang yang mempunyai relasi dekat dengan okamisen. Satu hal yang perlu diketahui, para geisha tidak menyajikan makanan, membicarakan hal-hal lain diluar pesta, apalagi bekerja one night stand untuk tamunya.

            Sekarang ini jumlah geisha di Jepang menurun drastis. Jika pada tahun 1920-an jumlah geisha di Jepang mencapai 80 ribu orang, sekarang ini jumlah geisha kurang dari 10 ribu orang. Di samping pengaruh masuknya budaya Barat, penyebab lainnya adalah berkurangnya orang yang tertarik menjadi geisha. Hal itu disebabkan karena harus mengikuti proses training yang memakan waktu lama dan detail. Selain itu mahalnya sewa geisha membuat orang-orang memilih alternatif hiburan lain pada pesta mereka. Walau sudah langka, para geisha moderen masih bisa ditemukan di distrik geisha Kyoto dan Tokyo. Demikian juga dengan maiko yang banyak ditemukan di distrik Kyoto, seperti Gion dan Ponthoco, dan distrik Higashi Geisha di Kanazawa.

Tanabata (Festival Bintang) Mei 28, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

 

Tanabata (Festival Bintang)

 

Tanabata atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Tanggal festival Tanabata dulunya mengikuti kalender lunisolar yang kira-kira sebulan lebih lambat daripada kalender Gregorian. Sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata diadakan pada malam tanggal 7 Juli, hari ke-7 bulan ke-7 kalender lunisolar, atau sebulan lebih lambat sekitar tanggal 8 Agustus. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di wilayah Jepang sebelah timur seperti Hokkaido dan Sendai, perayaan dilakukan sebulan lebih lambat sekitar 8 Agustus. Alasan dan sejak kapan hari ke-7 bulan ke-7 mulai dijadikan hari istimewa tidak diketahui dengan pasti. Literatur tertua yang menceritakan peristiwa di hari tersebut adalah Simin yueling (almanak petani) karya Cui Shi yang menulis tentang tradisi menjemur atau mengangin-anginkan buku di bawah sinar matahari.

 

Tanabata merupakan sinkretisme dalam tradisi Jepang kuno untuk mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen dan perayaan Qi Qiao Jie (asal Tiongkok) yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tapi kemudian dijadikan perayaan terpisah. Dalam perayaan ini, daun bambu (biasa di sebut sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.

 

Legenda asli Jepang tentang Tanabatatsume dalam kitab Kojiki mengisahkan seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai. Hal ini dilakukan agar ia dijadikan istri semalam sang dewa supaya desa terhindar dari bencana. Di zaman Nara, perayaan Tanabata dijadikan salah satu perayaan di istana kaisar yang berhubungan dengan musim. Di dalam kitab antologi puisi waka berjudul Man’yōshū terdapat puisi tentang Tanabata karya Ōtomo no Yakamochi dari zaman Nara. Setelah perayaan Tanabata meluas ke kalangan rakyat biasa di zaman Edo, tema perayaan bergeser dari pekerjaan tenun-menenun menjadi kepandaian anak perempuan dalam berbagai keterampilan sebagai persiapan sebelum menikah.

 

Festival Tanabata biasanya dimeriahkan dengan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku (secarik kertas berwarna-warni). Tradisi ini sudah ada di Jepang sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis. Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik.

 

Di jepang, perayaan Tanabata dirayakan secara besar-besaran di berbagai kota, seperti: Sendai, Hiratsuka, Anjo, dan Sagamihara. Perayaan ini dimulai setelah Perang Dunia II dengan maksud untuk menggairahkan ekonomi, terutama di wilayah Jepang bagian utara. Di zaman dulu, Sendai sering berkali-kali dilanda kekurangan pangan akibat kekeringan dan musim dingin yang terlalu dingin. Di kalangan penduduk lahir tradisi menulis permohonan di atas secarik kertas tanzaku untuk meminta dijauhkan dari bencana alam. Date Masamune menggunakan perayaan Tanabata untuk memajukan pendidikan bagi kaum wanita, dan hiasan daun bambu mulai terlihat di rumah tinggal kalangan samurai dan penduduk kota. Di zaman Meiji dan zaman Taisho, perayaan dilangsungkan secara kecil-kecilan hingga akhirnya penyelenggaraan diambil alih oleh pusat perbelanjaan di tahun 1927. Pusat perbelanjaan memasang hiasan Tanabata secara besar-besaran, dan tradisi ini berlanjut hingga sekarang sebagai Sendai Tanabata.

 

SHODO Mei 14, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

           Seni menulis indah menggunakan kuas dan tinta hitam atau yang lebih dikenal dengan istilah kaligrafi sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Kaligrafi ini pertama kali dikembangkan di China pada abad ke 7 bersamaan dengan penyebaran agama Budha dari India menuju China, Korea, dan Jepang, di mana kitab suci agama Budha sudah ditulis dengan kaligrafi China pada saat agama itu diperkenalkan di Jepang.

 

Kalgrafi dalam bahasa Jepangdi sebut Shodo, yang berasal dari huruf kanji kaku (menulis) dan michi (cara). Meskipun shodo termasuk kebudayaan yang cukup kuno, namun orang Jepang masih mempertahankan kebudayaan itu. Hal ini terbukti hingga saat ini masih banyak orang yang tertarik untuk mempelajarinya, bahkan di sekolah-sekolahy para murid (biasanya murid SD) diajarkan shodo.

Shodo sangat memperhatikan keseimbangan bentuk tulisan, tarikan garis, tebal tipisnya garis hingga irama tulisan. Keindahan kaligrafi ini tentunya tidak lepas dari peralatan yang digunakan. Dalam membuat shodo ada 6 jenis peralatan utama yang biasa digunakan. Yang pertama adalah shitajiki, berupa tatakan / alas untuk menulis. Alas ini biasanya berbahan semacam kain flannel yang permukaannya lembut dan berwarna hitam. Kedua adalah bunchin atau pemberat kertas berbentuk balok yang terbuat dari besi. Peralatan yang lainnya yaitu kertas untuk menulis. Kertas yang digunakan bukan sembarang kertas, melainkan kertas yang tipis dan ringan, namun tahan lama dan mampu menyerap tinta dengan baik. Kertas khusus ini dikenal dengan hanshi, berupa kertas dengan dua permukaan yang berbeda, dimana sebelah permukaannya kasar, sedangkan permukaan yang sebaliknya halus. Bagian yang halus inilah yang dipakai untuk menulis kaligrafi. Ukuran hanshi pada umumnya berkisar antara 24 x 32,5 hingga 25 x 35 cm. selanjutnya fude, sejenis kuas untuk menggambar kaligrafi. Fude memiliki berbagai macam bentuk, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Fude ukuran besar biasanya digunakan uintuk mmbuat tulisan, sedangkan yang kecil digunakan untuk membubuhkan tanda tangan si pembuat kialigrafi. Batang fude terbuat dari bambu atau kayu pohon, sedangkan bulunya terbuat dari bulu hewan, seperti domba, musang, rakun, rusa, bahkan ekor kuda. Bulu itu kemudian diikat dan ditempelkan pada fude. Rapih tidaknya ikatan bulu fude sangat mempengaruhi tekstur tulisan. Tidak hanya fude saja, tetapi tinta yang dipakai juga mempengaruhi hasil tulisan. Tinta yang dipakai biasanya berupa tinta botolan. Namun, agar hasil tulisan maksimal, biasanya digunakan sumi, berupa tinta yang dipadatkan. Cara mencairkan sumi yaitu dengan menambahkan air lalu menggosok-gisokkan sumi dalam wadah besi yang disebut suzuri.

Sebelum membuat sodho, keenam perlengkapan itu ditata sesuai aturan. Hanshi diletakkan di atas shitajiki, kemudian dibagian atasnya diberi pemberat bunchin agar tidak bergeser ataupun tertiup angin. Sedangkan suzuri yang sudah berisi tinta sumi diletakkan di sebelah kanan bersama dengan fude. Kadang-kadang fude juga diletakkan di atas fudeoki yang mirip kotak kecil untuk menyimpan sumpit. Sedangkan cara memakai fude yaitu dengan menggenggam bagian tengah fude, dan pada saat mencoretkan fude pada hanshi, fude diarahkan tegak lurus, pergelangan tangan dan siku tidak boleh menyentuh meja. Banyak sekali aturan bukan? Tapi itulah shodo. Dibalik kerumutan terdapat seni yang sangat indah