jump to navigation

Sinopsis Novel Shakugan No Shana Juni 28, 2008

Posted by uraankoku in Sinopsis.
add a comment

Sinopsis Novel Shakugan No Shana

Karya: Yashichiro Takahashi

Shakugan No Shana (Shana bermata membara) atau dikenal dengan sebutan Shana” adalah serial novel ringan yang ditulis oleh Yashichiro Takahashi dan dilustrasikan oleh Noizi Ito. Setelah kemunculannya dalam bentuk novel, Shana muncul juga dalam berbagai media seperti game, anime dan manga.

Pertamakali muncul di Dengeki Bunko berbentuk novel ringan oleh Mediawork dan dirilis tanggal 10 November 2002 di Jepang. Serial manganya digambar oleh Ayato Sasakura di majalah Dengeki Daioh 1 Februari 2005.

Mugen no Toki ga kodou o tome hito wa oto mo naku enjou suru
Dare hitori kizuku mono mo naku sekai wa hazure guze no honnou ni tsutsumareru

Infinite time stopped beating it’s heart and humans burnt away without making any noise
no one person notices as the world become dislocated and is covered in the Flame of Guze

Ringakasan Cerita

Dahulu kala, seorang penyair menemukan bahwa ada makhluk-makhluk yang bukan penghuni dunia ini membaur di tengah-tengah manusia. Mereka berasal dari dunia lain yang kemudian disebut sebagai sebagai Guze [arti harafiahnya: ‘Dunia Merah’] oleh sang penyair. Para penghuni Guze yang menyeberang ke dunia manusia disebut Guze no Tomogara. Untuk dapat bertahan dan melakukan berbagai hal di dunia manusia, para Tomogara membutuhkan kekuatan yang disebut Sonzai no Chikara atau kekuatan eksistensi manusia. Manusia yang “dimakan” akan kehilangan segala bukti bahwa dirinya pernah eksis di dunia. Tidak ada seorangpun yang mengingat mereka. Namun masalah terbesar dari ulah Tomogara ini sebenarnya ada pada keseimbangan dua dunia yang menjadi goyah jika Sonzai no Chikara terus-menerus dimakan. Sekelompok Tomogara berkekuatan besar yang bergelar Guze no Oh kemudian memutuskan untuk menghentikan para Tomogara yang terus-menerus memakan eksistensi manusia ini. Karena tidak mau jadi sama rendahnya dengan buruan mereka, para Guze no Oh mencari manusia-manusia yang kemudian menjadi “wadah” bagi mereka di dunia manusia agar tidak membutuhkan Sonzai no Chikara untuk bertahan hidup. Para manusia ini disebut Flame Haze dan mereka menjalani kehidupan yang nyaris abadi namun tanpa masa lalu dan masa depan. Kehidupan yang sepi dan keras, hidup hanya demi membantai Tomogara, menanti saat di mana kelak mereka sendiri yang tewas kehabisan tenaga.

Beberapa tahun berlalu, suatu hari, gadis Flame Haze tak bernama ini menemukan seorang Tomogara yang memangsa banyak sekali manusia di sebuah kota di Jepang. Salah satu korbannya adalah Sakai Yuji, seorang siswa SMA biasa.

Saat dia menyaksikan Rinne memakani sonzai no chikara dari orang-orang itu, Yuuji dengan kebingungan berteriak untuk menghentikannya dan menarik perhatian Rinne tersebut yang segera menyadari bahwa Yuuji adalah seorang mistess dengan hougu dalam tubuhnya yang membuat dia bisa bergerak dalam fuzetsu. Rinne itu langsung menyerang Yuuji, dan saat Yuuji tertangkap dan hampir dimakan, datanglah seorang Flame Haze dengan mata dan rambut panjang yang bersinar merah, langsung menghabisi Rinne dengan pedangnya.

Karakter

1.        SHANA

Sejak lahir, Shana dibesarkan dalam hôgu raksasa berbentuk kastil yang mengapung di udara dan terpisah dengan dunia luar, Tendokyu. Ia tidak memiliki nama. Nama Shana yang disandangnya saat ini adalah pemberian Yuji, diambil dari nama pedang Nietono no Shana miliknya. Tidak terbiasa dengan dunia manusia, sifat Shana selalu tampak ketus dan tidak pedulian. Memanggil orang lebih tua pun hanya dengan nama, atau kadang-kadang ‘kamu’ saja.

2.        SAKAI YUJI

Awalnya sulit dan berat bagi Yuji untuk menerima kenyataan bahwa dunianya telah jungkir balik akibat ulah Tomogara. Walau pernah mengalahkan Wirhelmina, ia takut pada wanita itu dan selalu bersikap amat sopan di hadapannya. Hôgu di tubuhnya adalah Reiji no Maigo yang menyimpan jiwa seorang Mistes bernama Johan. Permasalahan terbesar yang ditimbulkan oleh hôgu ini adalah kekasih Johan, Filleth yang hingga saat ini masih terus mencari keberadaan Reiji no Maigo.

3.        ALASTOR

Dikenal juga sebagai Tenbatsu no Majin atau Tenbatsu Gurui yang merupakan Dewa yang menjatuhkan hukuman di Guze. Memiliki sosok asli raksasa api bersayap dan bertanduk. Alastor bersikap keras dan tegas terhadap semua orang, tapi sebenarnya sangat memperhatikan orang-orang yang dekat dengannya. Ia menganggap Shana sebagai putrinya dan tidak jarang ia kesal pada Yuji yang menurutnya sering membuat hati Shana goyah. Satu-satunya momen di mana ia pernah panik adalah ketika Wirhelmina [dengan sengaja] melantunkan lagu cinta gubahan kekasihnya di hadapan Shana. Alastor adalah orang yang paling kehilangan saat Mathilde gugur. Tetapi ia tidak menyesalinya, karena bagi Alastor, hingga saat inipun Mathilde Saint-Omer hidup dalam dirinya.

 

4.        MARGERY DAW

Salah seorang Flame Haze yang bergerak hanya dengan landasan kebencian. Wanita seksi yang punya hobi minum sampai mabuk ini selalu membantai tiap tomogara yang ia temui tanpa ampun karena masa lalunya yang pahit. Di kalangan Flame Haze sekalipun ia dikenal sebagai orang berbahaya yang gila pertempuran. Ia tidak menyukai Shana [begitu juga sebaliknya], tapi bukan berarti membencinya. Sepertinya ia cukup dekat dengan Wirhelmina. Tujuan utamanya adalah memburu dan membunuh tomogara misterius yang memiliki warna api perak. Dua orang teman sekelas Yuji, Tanaka Eita dan Sato Keisaku secara kebetulan mengenalnya kemudian menjadi semacam anak buah baginya. Keduanya menghormati Margery walau lebih memilih untuk menarik diri tiap kali wanita itu mabuk.

5.        MARCOSIAS

Guze no Oh yang memiliki warna api ultramarine ini mengambil wujud sebuah buku besar sebagai Jinkinya. Sikapnya selalu seenaknya dan punya suara tawa yang memuakkan. Kalau dia sudah mulai tertawa sambil berkoar-koar, biasanya Margery akan langsung mengayunkan tinju untuk menyuruhnya diam. Di balik semua sikap ngaconya, Marco sangat memperhatikan dan menyayangi Flame Hazenya. Ketika Margery terluka saat melawan Shana, ia mengamuk dan muncul dalam wujud aslinya, peduli amat dengan segala aturan dan keseimbangan dunia.

6.        KHAMSIN NBH’W

Salah seorang Flame Haze tertua yang mengikat ‘kontrak’ dengan Behemoth saat beranjak remaja. Ada yang mengatakan kalau dia sebenarnya adalah Pharaoh karena nama dan penampilan fisiknya yang seperti orang timur tengah, dan ia memang dulunya seorang pangeran, walau tidak pernah disinggung dengan jelas mengenai itu. Ia menerima tawaran Behemoth dan menjadi Flame Haze demi menyelamatkan negerinya dari serangan monster. Ironisnya ketika ia pulang setelah membantai monster yang bersangkutan, tak ada lagi yang mengenal dirinya. Tidak seperti Flame Haze pada umumnya, tubuh Khamsin penuh bekas luka, bukti pertarungannya selama ini. Ia sengaja tidak menghapusnya karena paling tidak ingin menjadikannya sebagai bukti eksistensinya. Selalu berbicara menggunakan keigo [bahasa sopan] terhadap siapapun, dan tidak pernah protes sekalipun dipanggil ‘Kakek’.

7.        BEHEMOTH

Warna apinya coklat. Sama seperti Khamsin, sikapnya kalem dan gaya bicaranya seperti kakek-kakek. Hubungannya dengan Flame Hazenya sangat dekat, dan bukan hanya karena mereka telah bersama sekian lama. Saat ini, ia dan Khamsin lebih berperan sebagai penyelaras yang bertugas ‘memperbaiki’ tempat yang pernah mendapat serangan hebat dari tomogara.

 

8.        WIRHELMINA CARMEL

Datar. Itulah Wirhelmina. Wajahnya yang selalu tanpa ekspresi menyembunyikan sosok wanita lembut yang sangat menyayangi Shana. Jika Alastor adalah ayah, maka Wirhelmina bisa dibilang merupakan sosok ibu bagi Shana. Pada masa perang, ia menjadi musuh besar dari partner Merihim, Illuyankas. Wanita cantik yang kadang dipanggil Hime [putri] oleh Tiamat ini tidak menyukai Yuji dan pernah nyaris membunuhnya. Setelah sedikit ribut-ribut di sana-sini, akhirnya ia mau memberi kesempatan pada Mistes itu walau tetap saja tidak menyukainya. Saat ini ia tinggal bersama Shana di rumah keluarga Hirai dan menawarkan diri untuk mengawasi latihan Shana dan Shuji. Menggunakan pita sebagai senjatanya, dan walau tidak terlalu kuat, meremehkannya bisa berarti kematian karena sejak masa perang, ia terkenal dengan julukan Kagen to Sengi Muso, seorang Flame Haze yang patut disejajarkan dengan Mathilde.

9.        TIAMAT

Berwujud tiara pada masa perang, kemudian menjadi head dress ketika Wirhelmina mengganti penampilannya dengan baju maid [persis setelah wanita itu memungut Shana]. Dalam pertempuran, wujudnya berubah menjadi topeng rubah dengan surai yang lebat. Tiamat adalah seorang wanita yang tidak jauh beda dinginnya dengan Wirhelmina. Kata-kata yang diucapkannya selalu singkat, padat dan jelas [dalam novel, ucapannya hanya terdiri dari huruf kanji dan tidak pernah lebih dari 5 huruf]. Walau kaku, ia paling paham tentang Flame Hazenya, dan kadang-kadang bisa kompak jayuz juga. Kalau komentar tak berperasaannya sudah keluar, biasanya Wirhelmina akan langsung menghantamnya.

10.     MERIHIM

Salah seorang Guze no Oh yang berada di pihak Azis saat perang besar. Wajahnya tampan dan memiliki warna api yang paling indah; pelangi. Ia mencintai Mathilde dan sama sekali tidak malu-malu untuk menyatakannya sekalipun mereka berdua tengah bertarung mempertaruhkan nyawa. Tak heran kalau Alastor sangat membencinya. Pada akhirnya ia kalah dan Mathilde memintanya untuk berjanji tiga hal; jangan makan manusia lagi, jangan membuat kacau dunia manusia lagi, dan didik pengganti dirinya suatu saat nanti agar menjadi Flame Haze yang hebat. Ketika Mathilde tewas, Merihim memenuhi sumpahnya pada wanita itu dan berubah wujud menjadi tengkorak putih agar tidak membutuhkan kekuatan eksistensi lagi. Shana mengenalnya sebagai Shiro, guru bertarungnya.

11.     MATHILDE SAINT-OMER

Flame Haze Alastor di masa lalu. Mathilde dikatakan sebagai anomali dalam Flame Haze karena mengatakan dirinya bahagia menjadi orang yang hidup hanya demi membantai tomogara. Ia bahagia dengan kenyataan dirinya ‘bisa bertarung’. Satu-satunya pria yang memahami dan kemudian menjalin cinta dengannya adalah Alastor. Wirhelmina dan Tiamat, walau tidak mengerti jalan pikirannya, adalah satu-satunya yang mau menerima dirinya, menjadikan mereka satu-satunya pihak yang bisa disebut sahabat oleh Mathilde. Mathilde terluka parah di penghujung perang besar dan menyadari tubuhnya tidak akan bisa bertahan, ia mengerahkan Tenpa Jyosai untuk menghancurkan Azis, yang kemudian merenggut nyawanya sendiri. Mathilde menutup mata di tengah kobaran api yang merupakan wujud asli Alastor sambil melantunkan lagu cinta yang dibuatnya untuk pria itu.

Daftar istilah

1.       Guze
Dunia yang bersebelahan dengan dunia manusia, tapi tidak mungkin bisa ‘berjalan’ bersama.

2.       Tomogara
Sebutan umum untuk penghuni Guze. Tiap tomogara memiliki warna api yang berbeda-beda sebagai identitas diri.

3.       Guze no Oh
Gelar untuk tomogara yang memiliki kekuatan besar. Sebagian besar Guze no Oh tidak menyukai ulah tomogara yang mengacaukan keseimbangan Guze dan dunia manusia dan mengikat ‘kontrak’ dengan manusia yang kemudian menjadi Flame Haze.
Guze no Oh yang tidak memiliki Flame Haze biasanya disebut tomogara saja.

4.       Flame Haze
Manusia yang mengikat ‘kontrak’ dengan Guze no Oh. Kebanyakan dari mereka sebenarnya sudah mati dan menjadi Flame Haze karena dendam dan kemarahan terhadap tomogara. Begitu menjadi Flame Haze, manusia itu akan kehilangan kehilangan segala hal yang dimiliki manusia normal. Sepanjang sejarah, hanya ada satu orang yang bahagia karena bisa menjadi Flame Haze; Mathilde Saint-Omer.

5.       Torch
Sisa-sisa manusia yang dimakan tomogara. Diciptakan agar dunia manusia bisa menyesuaikan diri dengan ‘kehilangan’nya.

6.       Fuzetsu
Semacam kekkai (pelindung) yang biasa dikeluarkan oleh tomogara atau Flame Haze jika mereka ingin bertarung. Prinsip kerjanya adalah ‘membuat sebuah dunia yang tidak berhubungan dengan dunia luar’. Tiap tomogara dan Flame Haze punya Fuzetsu dengan keistimewaan tersendiri.

7.       Jizaiho
Kira-kira sama dengan ‘sihir’ untuk para tomogara. Tapi sumber kekuatannya adalah sonzai no chikara [bukan mana seperti sihir pada umumnya].

8.       Hogu
Harta karun ciptaan tomogara yang memiliki kekuatan istimewa. Sering disimpan di dalam Torch yang kemudian membuat Torch itu disebut Mistes. Rare item kalau di game.

9.       Jinki
Wadah yang dipakai para Guze no Oh untuk bisa berkomunikasi dengan manusia atau Flame Haze.
Bentuknya bervariasi, tergantung tiap Guze no Oh.

10.    Rinne
Sebutan untuk “anak buah” tomogara

11.    Tenpa Josai
”Ritual” untuk memanggil wujud asli Alastor ke dunia manusia. Tidak memakan kekuatan eksistensi melainkan mengorbankan tomogara yang ada di dekatnya. Hanya Alastor yang mampu melakukan ini karena ia adalah salah seorang dewa Guze.

 

Iklan

Artikel. Juni 28, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

GION MATSURI

 

Jepang dikenal sebagai Negara yang paling banyak mengadakan festival (matsuri). Boleh dikatakan hampir setiap bulannya ada saja festival yang dirayakan di Negri Sakura itu. Sebenarnya, festival di Jepang dirayakan bukan semata-mata untuk bersenang-senang, tetapi dibalik semua itu ada kepercayaan terhadap dewa yang diagungkan oleh orang Jepang. Kata matsuri sendiiri berarti festival dan penyembahan. Jadi, setiap festival memiliki makna penyembahan terhadap dewa.

            Diantara banyaknya festival yang ada, salah satunya ada yang disebut Gion Matsuri (Festival Gion). Gion matsuri merupakan festival tahunan yang diadakan di kota Kyoto setiap bulan Juli, bersamaan dengan festival Tanabata yang diadakan setiap tanggal 7 Juli. Bedanya, festival ini diadakan sebulan penuh, dari tanggal 1 hingga 31 Juli.

            Gion Matsuri pertama kali diadakan pada tahun 869 Masehi, dimana saat itu terjadi wabah penyakit mematikan di Kyoto. Untuk menghentikan wabah tersebut, masyarakat Kyoto pun lalu berdoa kepada dewa kesehatan. Mereka juga menggantungkan tombak setinggi 66 meter, yang melambangkan 66 propinsi di Jepang. Paada awalnya, festival ini diadakan sebagai upacara ritual hingga wabah penyakit menghilang. Namun, sejak tahun 970 Masehi, festival ini berubah menjadi acara tahunan. Nama Gion sendiri diambil dari nama kuil Yasaka, tempat diadakannya festival ini, dimana kuil Yasaka dulunya bernama kuil Gion.

            Orang Kyoto mengatakan jika musim panas di Kyoto dimulai dengan Festival Gion, banyak orang memakai yukata (kimono musim panas) dan geta (sandal kayu) selama festival tersebut. Selain itu, juga diadakan festival makanan Jepang di sepanjang jalan Kyoto. Makanan Jepang yang disajikan antara lain takoyaki (cumi-cumi baker), tomorokoshi (jagung baker), dll.

            Acara yang paling ditunggu-tunggu dalam festival ini adalah Yoi-yama yang diadakan pada tanggal 16 Juli dan Yamahoko-junko pada tanggal 17 Juli. Pada saat yoi-yama, orang-orang membuka pintu rumah mereka dan memamerkan penyekat ruangan kuno yang mereka miliki. Sedangkan yamahoko-junko adalah parade kendaraan hias, yang dalam hal ini kendaraan tersebut berbentuk kuil. Dalam parade tersebut para lelaki yang berpakaian tradisional Jepang manarik sebuah kuil buatan sepanjang jalan besar kota Tokyo. Biasanya daerah yang dilewati adalah daerah pertokoan besar seperti Takashiyama dan Nishiki-Koji. Ada 2 jenis kuil yang diangkut saat Yamahoko-junko, yaitu yama dan hoko. Yama merupakan kuil yang berbentuk kecil. Tetapi walaupun ukurannya kecil, berat yama mencapai 1,2 ton hingga 1,6 ton, dengan tinggi sektar 6 meter. Biasanya yama diarak keliling kota dengan cara digotong di pundak. Sedangkan hoko merupakan kuil raksasa yang bentuknya jauh lebih besar dari yama. Beratnya mencapai 4,8 ton hingga 12 ton, dengan tinggi menvapai 25 meter. Hoko biasanya diletakkan diatas roda kayu, dan mengaraknya dengan cara ditarik. Karena berat, biasanya para lelaki menariknya dengan maneriakan “Yoi, yoi, yoi, to sei” dengan diiringi musik tradisional Jepang.

            Jumlah kuil yang diarak selama parade berjumlah 32 buah, dengan perbandingan yama 25 buah dan hoko 7 buah. Dulu, kuil yang diarak tidak dihiasi dengan pernak-pernik, namun sejak zaman Edo kuil tersebut mulai dihiasi dengan hiasan seperti lampion dan permadani hiasan dinding. Hiasan-hiasan ini biasanya diproduksi di Nishijin, Kyoto. Hampir setiap tahunnya parade ini selalu ramai dipenuhi orang-orang, baik masyarakat Kyoto sendiri maupun para turis.

Artikel Juni 28, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

GEISHA

 

Apa itu Geisa? Sebagian besar tentu langsung membayangkan sosok wanita Jepang ber-kimono lengkap dengan dandanan putih tebal dan rambut palsunya. Geisha sering disalah artikan banyak orang sebagai wanita penghibur atau yang berkaitan dengan prostitusi. Padahal, arti gesha yang sebenarnya adalah “seniman” atau “artis”, yang berasal dari huruf kanji gei (seni) dan sha/mono (orang). Image geisha tidak terlepas dari kimono yang rumit, sanggul palsu lengkap dengan hiasan daun icho dan kanzashi (jepit rambut),serta make up tebal berwarna putih. Karena wajahnya yang berwarna putih itu, sekitar abad ke-13, pada zaman Kamakura, geisha pernah dikenal dengan istilah shirabyoshi. Geisha yang sudah ada sejak zaman dulu memiliki sejarah panjang.

            Pada awalnya istilah geisha hanya ditujukan untuk para pria yang menjadi houken (pelawak di istana kaisar). Setelah ada wanita yang berpartisipasi, barulah muncul istilah onna geisha (geisha wanita) yang selanjutnya disebut sebagai geisha seperti sekarang ini. Dulu orang yang menjadi geisha biasanya anak yatim piatu atau berasal dari keluarga tidak mampu yang dibeli oleh ochaya (kedai teh). Sejak mecil mereka dididik oleh okamisan (istilah “mama” yang mengelola ochaya) untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga , dan lama-kelamaan diangkat menjadi asisten geisha senior. Selama masa training, mereka ditempatkan dan dipekerjakan dirumah seorang seniman sebagai pelayan rumah tangga. Lamanya training ini bisa mencapai beberapa tahun hingga mereka bissa menjadi seorang geisha. Selama bekerja disanalah mereka mulai mempelajari dan mengamati apa yang dikerjakan si seniman, yang dijadikan bekal untuk mereka kelak.

            Lain halnya dengan dulu, geisha di zaman modern ini tidak lagi berasal dari keluarga miskin atau yatim piatu. Siapapun dapat menjadi geisha. Namun, yang pasti mereka dituntut untuk menguasai berbagai kesenian Jepang tradisioal, mulai dari ikebana (seni merangkai bunga), chanoyu (upacara minum the), menari tarian tradisional, kaligrafi, membuat puisi, bermain alat musik tradisional shamisen (sejenis banjo bersenar tiga), kodaiko (drum kecil yang dimainkan dengan menggunakan stik kayu), hingga mempelajari bahasa Inggris.

            Di Kyoto, anak gadis yang magang menjadi geisha di sebut maiko. Biasanya usia maiko berkisar antara 15-20 tahun. Para maiko ini dilatih untuk menemani geisha senior melayani tamunya di kedai teh atau undangan pesta hanya sekedar menyajikan minuman, mengobrol dengan tamu, dan tampil menunjukkan kemampuan seninya, yaitu tachikata dan jikata. Tachikata yang menampilkan tarian tradisional Jepang biasanya dilakukan oleh para maiko, sedangkan jikata kebanyakan dilakukan oleh geisha senior dengan menampilkan nyanyian atau permainan musik tradisional. Setelah berusia 20 tahun, para maiko harus memutuskan apakah mereka akan menjadi geisha atau tidak. Apabila kelak mereka menikah, mereka tidak boleh lagi menjadi geisha. Harga yang dibayar untuk menyewa geisha cukup mahal, dan tidak sembarangan orang dapat menyewa geisha, kecuali orang yang mempunyai relasi dekat dengan okamisen. Satu hal yang perlu diketahui, para geisha tidak menyajikan makanan, membicarakan hal-hal lain diluar pesta, apalagi bekerja one night stand untuk tamunya.

            Sekarang ini jumlah geisha di Jepang menurun drastis. Jika pada tahun 1920-an jumlah geisha di Jepang mencapai 80 ribu orang, sekarang ini jumlah geisha kurang dari 10 ribu orang. Di samping pengaruh masuknya budaya Barat, penyebab lainnya adalah berkurangnya orang yang tertarik menjadi geisha. Hal itu disebabkan karena harus mengikuti proses training yang memakan waktu lama dan detail. Selain itu mahalnya sewa geisha membuat orang-orang memilih alternatif hiburan lain pada pesta mereka. Walau sudah langka, para geisha moderen masih bisa ditemukan di distrik geisha Kyoto dan Tokyo. Demikian juga dengan maiko yang banyak ditemukan di distrik Kyoto, seperti Gion dan Ponthoco, dan distrik Higashi Geisha di Kanazawa.

Tanabata (Festival Bintang) Mei 28, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

 

Tanabata (Festival Bintang)

 

Tanabata atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Tanggal festival Tanabata dulunya mengikuti kalender lunisolar yang kira-kira sebulan lebih lambat daripada kalender Gregorian. Sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata diadakan pada malam tanggal 7 Juli, hari ke-7 bulan ke-7 kalender lunisolar, atau sebulan lebih lambat sekitar tanggal 8 Agustus. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di wilayah Jepang sebelah timur seperti Hokkaido dan Sendai, perayaan dilakukan sebulan lebih lambat sekitar 8 Agustus. Alasan dan sejak kapan hari ke-7 bulan ke-7 mulai dijadikan hari istimewa tidak diketahui dengan pasti. Literatur tertua yang menceritakan peristiwa di hari tersebut adalah Simin yueling (almanak petani) karya Cui Shi yang menulis tentang tradisi menjemur atau mengangin-anginkan buku di bawah sinar matahari.

 

Tanabata merupakan sinkretisme dalam tradisi Jepang kuno untuk mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen dan perayaan Qi Qiao Jie (asal Tiongkok) yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tapi kemudian dijadikan perayaan terpisah. Dalam perayaan ini, daun bambu (biasa di sebut sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.

 

Legenda asli Jepang tentang Tanabatatsume dalam kitab Kojiki mengisahkan seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai. Hal ini dilakukan agar ia dijadikan istri semalam sang dewa supaya desa terhindar dari bencana. Di zaman Nara, perayaan Tanabata dijadikan salah satu perayaan di istana kaisar yang berhubungan dengan musim. Di dalam kitab antologi puisi waka berjudul Man’yōshū terdapat puisi tentang Tanabata karya Ōtomo no Yakamochi dari zaman Nara. Setelah perayaan Tanabata meluas ke kalangan rakyat biasa di zaman Edo, tema perayaan bergeser dari pekerjaan tenun-menenun menjadi kepandaian anak perempuan dalam berbagai keterampilan sebagai persiapan sebelum menikah.

 

Festival Tanabata biasanya dimeriahkan dengan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku (secarik kertas berwarna-warni). Tradisi ini sudah ada di Jepang sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis. Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik.

 

Di jepang, perayaan Tanabata dirayakan secara besar-besaran di berbagai kota, seperti: Sendai, Hiratsuka, Anjo, dan Sagamihara. Perayaan ini dimulai setelah Perang Dunia II dengan maksud untuk menggairahkan ekonomi, terutama di wilayah Jepang bagian utara. Di zaman dulu, Sendai sering berkali-kali dilanda kekurangan pangan akibat kekeringan dan musim dingin yang terlalu dingin. Di kalangan penduduk lahir tradisi menulis permohonan di atas secarik kertas tanzaku untuk meminta dijauhkan dari bencana alam. Date Masamune menggunakan perayaan Tanabata untuk memajukan pendidikan bagi kaum wanita, dan hiasan daun bambu mulai terlihat di rumah tinggal kalangan samurai dan penduduk kota. Di zaman Meiji dan zaman Taisho, perayaan dilangsungkan secara kecil-kecilan hingga akhirnya penyelenggaraan diambil alih oleh pusat perbelanjaan di tahun 1927. Pusat perbelanjaan memasang hiasan Tanabata secara besar-besaran, dan tradisi ini berlanjut hingga sekarang sebagai Sendai Tanabata.

 

SHODO Mei 14, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
add a comment

           Seni menulis indah menggunakan kuas dan tinta hitam atau yang lebih dikenal dengan istilah kaligrafi sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Kaligrafi ini pertama kali dikembangkan di China pada abad ke 7 bersamaan dengan penyebaran agama Budha dari India menuju China, Korea, dan Jepang, di mana kitab suci agama Budha sudah ditulis dengan kaligrafi China pada saat agama itu diperkenalkan di Jepang.

 

Kalgrafi dalam bahasa Jepangdi sebut Shodo, yang berasal dari huruf kanji kaku (menulis) dan michi (cara). Meskipun shodo termasuk kebudayaan yang cukup kuno, namun orang Jepang masih mempertahankan kebudayaan itu. Hal ini terbukti hingga saat ini masih banyak orang yang tertarik untuk mempelajarinya, bahkan di sekolah-sekolahy para murid (biasanya murid SD) diajarkan shodo.

Shodo sangat memperhatikan keseimbangan bentuk tulisan, tarikan garis, tebal tipisnya garis hingga irama tulisan. Keindahan kaligrafi ini tentunya tidak lepas dari peralatan yang digunakan. Dalam membuat shodo ada 6 jenis peralatan utama yang biasa digunakan. Yang pertama adalah shitajiki, berupa tatakan / alas untuk menulis. Alas ini biasanya berbahan semacam kain flannel yang permukaannya lembut dan berwarna hitam. Kedua adalah bunchin atau pemberat kertas berbentuk balok yang terbuat dari besi. Peralatan yang lainnya yaitu kertas untuk menulis. Kertas yang digunakan bukan sembarang kertas, melainkan kertas yang tipis dan ringan, namun tahan lama dan mampu menyerap tinta dengan baik. Kertas khusus ini dikenal dengan hanshi, berupa kertas dengan dua permukaan yang berbeda, dimana sebelah permukaannya kasar, sedangkan permukaan yang sebaliknya halus. Bagian yang halus inilah yang dipakai untuk menulis kaligrafi. Ukuran hanshi pada umumnya berkisar antara 24 x 32,5 hingga 25 x 35 cm. selanjutnya fude, sejenis kuas untuk menggambar kaligrafi. Fude memiliki berbagai macam bentuk, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Fude ukuran besar biasanya digunakan uintuk mmbuat tulisan, sedangkan yang kecil digunakan untuk membubuhkan tanda tangan si pembuat kialigrafi. Batang fude terbuat dari bambu atau kayu pohon, sedangkan bulunya terbuat dari bulu hewan, seperti domba, musang, rakun, rusa, bahkan ekor kuda. Bulu itu kemudian diikat dan ditempelkan pada fude. Rapih tidaknya ikatan bulu fude sangat mempengaruhi tekstur tulisan. Tidak hanya fude saja, tetapi tinta yang dipakai juga mempengaruhi hasil tulisan. Tinta yang dipakai biasanya berupa tinta botolan. Namun, agar hasil tulisan maksimal, biasanya digunakan sumi, berupa tinta yang dipadatkan. Cara mencairkan sumi yaitu dengan menambahkan air lalu menggosok-gisokkan sumi dalam wadah besi yang disebut suzuri.

Sebelum membuat sodho, keenam perlengkapan itu ditata sesuai aturan. Hanshi diletakkan di atas shitajiki, kemudian dibagian atasnya diberi pemberat bunchin agar tidak bergeser ataupun tertiup angin. Sedangkan suzuri yang sudah berisi tinta sumi diletakkan di sebelah kanan bersama dengan fude. Kadang-kadang fude juga diletakkan di atas fudeoki yang mirip kotak kecil untuk menyimpan sumpit. Sedangkan cara memakai fude yaitu dengan menggenggam bagian tengah fude, dan pada saat mencoretkan fude pada hanshi, fude diarahkan tegak lurus, pergelangan tangan dan siku tidak boleh menyentuh meja. Banyak sekali aturan bukan? Tapi itulah shodo. Dibalik kerumutan terdapat seni yang sangat indah

Ujian Nasional (UAN) Menjadi Momok Bagi Siswa Mei 6, 2008

Posted by uraankoku in berita.
add a comment

           Ujian Nasional (UAN) yang diadakan pada tanggal 22-24 April 2008 lalu telah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa SMA dan SMK. Hal ini disebabkan karena tingginya standar kelulusan yaitu 4,26 dan adanya penambahan tiga mata pelajaran yang ikut diujikan. Berbeda dengan UAN tahun sebelumnya yang hanya mengujikan tiga mata pelajaran, pada UAN tahun ini mata pelajaran yang diujikan menjadi 6 mata pelajaran. Khusus untuk SMA, tiga mata pelajaran yang ikut ditambahkan dalam UAN yaitu, Matematika, Sosiologi, dan Geografi (untuk program jurusan IPS), Fisika, Biologi dan Kimia ( untuk program jurusan IPA), dan Sastra, Matematika dan Antropologi (untuk program jurusan Bahasa). Sedangkan untuk SMK tidak ada penambahan. Mata pelajaran yang diujikan untuk UAN hanya Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Bertambahnya jumlah mata pelajaran yang diujikan dan tingginya standar kelulusan pada UAN tahun ini dirasa sangat memberatkan siswa. Mereka sangat takut tidak dapat lulus. Pasalnya pada UAN tahun lalu, yang hanya mengujikan tiga mata pelajaran saja ternyata menyebabkan banyak siswa tidak lulus. Dengan adanya kenyataan ini para siswa harus belajar dengan sangat ekstra. Tetapi bukan hanya siswa saja yang harus belajar keras, guru dan pihak sekolah pun juga bekerja keras agar semua anak didiknya dapat lulus. Seperti halnya yang dilakukan oleh Ibu Sri Setiyani. S. Pd, (45) guru SMK N 2 Purworejo. Agar semua anak didiknya dapat lulus, beliau dan pihak sekolah berusaha semaksimal mungkin membantu siswa dengan cara memberikan bimbingan yang makasimal seperti membahas soal-soal UAN tahun lalu, membuat soal untuk uji coba UAN secara gabungan dengan sekolah-sekolah lain se Kabupaten Purworejo, memberikan les tambahan seusai jam sekolah, menambah jumlah jam pelajaran, menghapal dan mengulangi materi dari kelas satu hingga kelas tiga, melatih siswa untuk dapat percaya diri dan berdoa bersama. Usaha-usaha ini dilakukan dengan harapan agar siswa dapat lulus dengan baik.

Berbeda lagi dengan Agus Wijiyanto (18), siswa SMA Bruderan, Purworejo. Agus mengaku agar dapat lulus di UAN tahun ini, ia harus belajar dengan lebih giat. Ia rela mengorbankan waktu bermainny untuk belajar dan mengikuti berbagai les baik di sekolah maupun di luar sekolah. “Semua kegiatan ini sangat membuat saya sangat letih karena dari hari senin saya harus masuk pukul 06.30 wib hingga pukul 14.30 wib, setelah itu masih harus mengikuti les hingga pukul 16.30 wib. Walaupun sangat cepek tetapi hal itu tidak seberapa dibandingkan saya dapat lulus dengan nilai yang baik” kata Agus.

Drama “Bukan Salah Shinta” di Aula USD Mei 6, 2008

Posted by uraankoku in berita.
add a comment

 

 

          Pada tanggal 24 April 2008 lalu, kelas teater angkatan 2004, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (USD), menggelar sebuah pementasan drama berjudul “Bukan Salah Shinta” dalam rangka memenuhi mata kuliah “Teater”. Drama yang di sutradarai oleh Rintis Kartikajati ini terinspirasi dari cerpen berjudul “Dua Wanita Cantik” Karya Jujur Prananto. Para pemain yang terlibat dalam pementasan ini antara lain adalah Cicilia Feniawati (sebagai Shinta), Yulia Herlin P (sebagai Bunda), Yustinus Anang (sebagai Rama), dan Laurentius Ellife. S. N (sebagai Om Bambang).

          Pementasan ini diadakan di aula kampus USD, Mrican pada pukul 19.00-20.30 WIB. Selain gratis, pementasan ini juga bersifat terbuka untuk umum, sehingga siapa saja diijinkan untuk menonton. Pementasan ini terbilang sukses. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penonton yang datang untuk menyaksikan pementasan ini. Meskipun tergolong singkat, sebab hanya berlangsung selama kurang lebih 45 menit, namun penonton mengaku sangat terhibur menyaksikan drama ini.

         Pementasan drama ini sebenarnya tidak hanya bertujuan untuk mempraktekkan teori perkuliahan tentang bermain drama, namun juga melatih mahasiswa untuk menyelenggarakan dan memproduksi sebuah pementasan drama. Selain itu pementasan drama ini juga merupakan bentuk promosi untuk anak-anak SMA.

Leonardo da Vinci April 17, 2008

Posted by uraankoku in profil tokoh dunia.
add a comment

 

Leonardo lahir di kota Anchiano pada tanggal 14 April 1452. Ia berasal dari keluarga yang cukup mapan. Ibunya, Caterina di Piero, adalah putri petani, sedangkan ayahnya, Pietro d’Antonio da Vinci adalah seorang notaris di kota Florence, Italia. Sejak kecil Leonardo telah memperoleh pendidikan yang terbaik. Di sekolah, Leonardo mempelajari geometri, membaca, menulis, matematika, dan bahasa Latin. Ia tumbuh sebagai seorang yang cerdas. Sekitar tahun 1466, Leonardo mengenal Andrea Verrocchio, pelukis dan pemahat ternama. Bersama Verrocchio, Leonardo memperoleh sejumlah keterampilan seperti melukis, mematung, melebur emas (goldsmithing), dan pencetakan perunggu.

Pada tahun 1476, Leonardo sudah berperan dalam lukisan Baptism of Christ karya Verrocchio. Dalam lukisan itu Leonardo melukis malaikat. Setelah itu, Leonardo mendapat tawaran untuk mengerjakan sejumlah proyek besar untuk mengerjakan relief (altarpiece) untuk sebuah kapel, Palazzo Vecchio, balai kota Florence. Lukisan besar pertamanya, The Adoration of the Magi, dibuatnya untuk Biara San.

Di Milan, ia bekerja pada Ludovico Sforza untuk membuat patung perunggu Francesco Sforza, ayah dari Ludovico. Selain itu ia juga bekerja pada Cesare Borgia, seorang duke dari Romagna, putra Paus Alexander VI. Leonardo. Tahun 1506, ia memenuhi panggilan Charles d’Amboise, penguasa Perancis dan menjadi pelukis istana Raja Perancis, Louis XIII. Saat berada di Florence, Leonardo mengerjakan monumen Gian Giacomo Trivulzio, komandan pasukan Perancis. Leonardo juga sempat bekerja pada Paus Leo X dalam kurun waktu 1514-1516. Dan terakhir, ia mengabdi pada Raja Francis I. Raja memberinya sebutan pelukis pertama, arsitek, dan mekanik raja..

Leonardo merupakan sosok yang luar biasa di bidang seni. Sejumlah karyanya merupakan karya yang monumental. Meskipun di sepanjang kariernya sebagai seniman tidak seluruh karyanya terselesaikan, seperti lukisan St. Jerome (Hieronymus) atau The Adoration of Kings. Dua karya monumentalnya, yaitu The Last Supper (1495 – 1497) dan Mona Lisa (1503 – 1506). Mona Lisa, juga dikenal sebagai La Gioconda, memiliki arti yang khusus bagi Leonardo. Ia selalu membawa lukisan ini dalam sejumlah perjalanan yang ia lakukan.

Ia juga melakukan sejumlah penelitian ilmiah. Penelitiannya meliputi beberapa bidang, seperti di bidang anatomi, ia mempelajari sirkulasi darah dan pergerakan mata. Di bidang meteorologi dan geologi, ia berhasil menyimpulkan adanya hubungan antara bulan dan pasang surut, menduga konsep modern bentuk benua, juga menduga asal usul kerangka fosil. Selain itu, dia adalah salah satu penemu ilmu hidrolik, mungkin juga termasuk perangkat hidrometer. Penemuan Leonardo lainnya yang bermanfaat, misalnya, pakaian selam. Selain itu, peranti terbang rancangannya juga telah menerapkan prinsip aerodinamika.

Sejak 1516 Leonardo da Vinci menetap di Chateau de Cloux atas undangan Raja Francis I. Lalu pada tahun 1517, Leonardo da Vinci menerima kunjungan Kardinal Louis Aragon. Kepada kardinal inilah ia menunjukkan karyanya yang terakhir. Ia meninggal pada tanggal 2 Mei 1519 dan dimakamkan di Gereja St. Florentin di Amboise. Tidak ada catatan mengenai penyebabnya.

 

 

 

Detektif April 16, 2008

Posted by uraankoku in Humor.
add a comment

Pak inspektur M. Prima datang menghampiri Detektif Devid , anak buahnya. Katanya, “bagaimana, apakah anda sudah mencium siapa pembunuh pengusaha itu?” Detektif Devid kelihatan gugup. Katanya, “Penbunuh pengusaha itu memang seorang wanita muda yang cantik, komandan. Ta..tapi, saya belum menciumnya!”

Belum Bayar Hutang April 16, 2008

Posted by uraankoku in Humor.
add a comment

Pada saat Andi meninggal dunia, semua teman-temannya ikut berkabung. Tetapi di antara mereka hanya Bayu lah yang paling histeris. Dia terus menangis tersedusedu. Teman-temannya yang lain berusaha menghiburnya.

Budi     : “Sudahlah, jangan terus-terusan sedih bagitu. Kita berdoa saja supaya Andi diterima di sisiNya dan semoga kita mendapat teman lagi seperti Andi!”

Bayu    : “Tidaaak! Aku tidak mau berdoa seperti itu. Aku tidak mau mendapat teman yang seperti Andi lagi!”

Budi    : “Lho, kenapa?”

Bayu    : “Andi tukan ngutang!! Hutangnya  yang dulu aja belum dibayar!!”