jump to navigation

SHODO Mei 14, 2008

Posted by uraankoku in budaya jepang.
trackback

           Seni menulis indah menggunakan kuas dan tinta hitam atau yang lebih dikenal dengan istilah kaligrafi sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Kaligrafi ini pertama kali dikembangkan di China pada abad ke 7 bersamaan dengan penyebaran agama Budha dari India menuju China, Korea, dan Jepang, di mana kitab suci agama Budha sudah ditulis dengan kaligrafi China pada saat agama itu diperkenalkan di Jepang.

 

Kalgrafi dalam bahasa Jepangdi sebut Shodo, yang berasal dari huruf kanji kaku (menulis) dan michi (cara). Meskipun shodo termasuk kebudayaan yang cukup kuno, namun orang Jepang masih mempertahankan kebudayaan itu. Hal ini terbukti hingga saat ini masih banyak orang yang tertarik untuk mempelajarinya, bahkan di sekolah-sekolahy para murid (biasanya murid SD) diajarkan shodo.

Shodo sangat memperhatikan keseimbangan bentuk tulisan, tarikan garis, tebal tipisnya garis hingga irama tulisan. Keindahan kaligrafi ini tentunya tidak lepas dari peralatan yang digunakan. Dalam membuat shodo ada 6 jenis peralatan utama yang biasa digunakan. Yang pertama adalah shitajiki, berupa tatakan / alas untuk menulis. Alas ini biasanya berbahan semacam kain flannel yang permukaannya lembut dan berwarna hitam. Kedua adalah bunchin atau pemberat kertas berbentuk balok yang terbuat dari besi. Peralatan yang lainnya yaitu kertas untuk menulis. Kertas yang digunakan bukan sembarang kertas, melainkan kertas yang tipis dan ringan, namun tahan lama dan mampu menyerap tinta dengan baik. Kertas khusus ini dikenal dengan hanshi, berupa kertas dengan dua permukaan yang berbeda, dimana sebelah permukaannya kasar, sedangkan permukaan yang sebaliknya halus. Bagian yang halus inilah yang dipakai untuk menulis kaligrafi. Ukuran hanshi pada umumnya berkisar antara 24 x 32,5 hingga 25 x 35 cm. selanjutnya fude, sejenis kuas untuk menggambar kaligrafi. Fude memiliki berbagai macam bentuk, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Fude ukuran besar biasanya digunakan uintuk mmbuat tulisan, sedangkan yang kecil digunakan untuk membubuhkan tanda tangan si pembuat kialigrafi. Batang fude terbuat dari bambu atau kayu pohon, sedangkan bulunya terbuat dari bulu hewan, seperti domba, musang, rakun, rusa, bahkan ekor kuda. Bulu itu kemudian diikat dan ditempelkan pada fude. Rapih tidaknya ikatan bulu fude sangat mempengaruhi tekstur tulisan. Tidak hanya fude saja, tetapi tinta yang dipakai juga mempengaruhi hasil tulisan. Tinta yang dipakai biasanya berupa tinta botolan. Namun, agar hasil tulisan maksimal, biasanya digunakan sumi, berupa tinta yang dipadatkan. Cara mencairkan sumi yaitu dengan menambahkan air lalu menggosok-gisokkan sumi dalam wadah besi yang disebut suzuri.

Sebelum membuat sodho, keenam perlengkapan itu ditata sesuai aturan. Hanshi diletakkan di atas shitajiki, kemudian dibagian atasnya diberi pemberat bunchin agar tidak bergeser ataupun tertiup angin. Sedangkan suzuri yang sudah berisi tinta sumi diletakkan di sebelah kanan bersama dengan fude. Kadang-kadang fude juga diletakkan di atas fudeoki yang mirip kotak kecil untuk menyimpan sumpit. Sedangkan cara memakai fude yaitu dengan menggenggam bagian tengah fude, dan pada saat mencoretkan fude pada hanshi, fude diarahkan tegak lurus, pergelangan tangan dan siku tidak boleh menyentuh meja. Banyak sekali aturan bukan? Tapi itulah shodo. Dibalik kerumutan terdapat seni yang sangat indah

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: